oleh: Marjan Fariq
Oleh karena Negara Islam Indonesia (NII) atau juga disebut Darul Islam (DI) sedang hangat-hangatnya dibahas lagi di awal abad 21 ini, saya jadi ingin juga ikut andil menceritakan kisah hidup saya yang pernah bersinggungan dengan NII.
Kisah itu ada di saat saya masih SMA tepatnya saat kelas delapan. Waktu itu ada isu NII yang berseteru dengan beberapa ormas Islam namun isu itu hanya menyebar di wilayah yang kecil (tidak sampai meluas) sekitar satu dua kecamatan. Lalu saya berbincang dengan temaan dekat saya sejak kelas 2 Mts yang berasal dari daerah dimana perseteruan NII itu terjadi. Yang saya heran adalah sikap temanku itu yang selalu membela pihak NII. Obrolan di pinggir jalan pun berlangsung lama, saya kemudian jadi sangat curiga dan hampir yakin kalau temanku sudah menjadi salah satu anggota NII. Dan konfirmasi pun di dapat sebab temanku langsung mengakui bahwa dirinya anggota NII meskipun sebenarnya saya tidak menanyakan jati dirinya secara langsung. Ia berpandangan bahwa perdebatan di daerahnya antara NII dan Ormas Islam lainnya masih menyisakan “PR”, yang saya masih ingat “PR” untuk NII adalah menjawab pertanyaan “mengapa Ibnu Abbas dan sahabat-sahabat Rasulullah lain yang ayahnya telah beragama Islam tidak disyahadatkan oleh Rasulullah atau oleh ayahnya?” pertanyaan ini dilemparkan sebab NII mengharuskan setiap orang yang telah baligh untuk bersyahadat di depan imam supaya dirinya masuk agama Islam. Jika belum bersyahadat di depan imam dianggap belum masuk Islam alias kafir. Saya pun kaget saat teman saya dimintai pendapat apakah saya kafir, dan ia jawab ya saya masih kafir. Teman yang begitu lama akrab dengan saya ternyata berpikir lain di hatinya. Lalu saya tanyakan guru-guru yang mengajar di sekolah SMA termasuk guru agama bagaimana menurutnya, ia juga jawab semuanya kafir jika belum bersyahadat di depan imam. Temanku yang berinisial HJ mengungkapkan bahwa ormas-ormas Islam itu masih kafir semuanya. Selain karena tidak mensyariatkan syahadat _padahal mereka tahu syahadat itu rukun islam pertama—juga karena berada di bawah :”restu” negaraa RI yang teman saya bilang sebagai negaraThagut.
Saat itu saya kurang begitu menyadari bahwa diskusi saya dengannya menunjukkan bahwa saya sedang dipengaruhi olehnya. Karena HJ juga akhirnya mengungkapkan bahwa sejak lama ia ingin mengajak saya masuk NII. Dan sore itu adalah saat yang cukup tepat untuk mengajak saya masuk NII.
Setelah saya bersedia mendengarkan penjelasannya mengapa saya harus masuk NII ia menyodorkan buku atau tepatnya bundelan makalah tentang NII. Bab pertama menjelaskan aturan mengenai syahadat. Juga komplit dengan bantahan-bantahan yang biasanya sering dilontarkan. Di makalah itu sudah disiapkan jawabannya. Lalu mengenai Negara Islam, tentang RI thagut dan NII yang Islam kaffah. Tentang dasar Negara dan katanya NII pernah mengproklamirkan kemerdekaan Indonesia di Cisayong (kabupaten Tasikmalaya) oleh Karto Suwiryo dan ia menyebut bahwa proklamasi yang diakui di PBB adalah Proklamasinya Kartosuwiryo. Saya kurang percaya untuk pendapat ini.
Selanjutnya, HJ menjelaskan bahwa NII itu seperti GAM di Aceh. NII juga memiliki pasukan militer. Saat ditanya siapa ketua umum NII (presiden) ia hanya mengatakan bahwa dirinya pernah menemuinya dan tidak boleh dikatakan pada saya. Kalau saya sudah masuk NII baru boleh katanya. Seterusnya saat saya semakin penasaran dengan NII teman saya itu malah menyarankan saya segera masuk NII sebab kata dia, kalau mau tahu isi sebuah rumah kita harus masuk rumah itu baru ketahuan apa saja isinya. Kalau dilihat dari luar akan sangat sedikit informasi yang didapatkan. Saat itu saya menjawab pikir-pikir. Ia juga menyarankan saya mengikuti pengajian NII di Cibubu (kampong yang jadi basis NII).
HJ pun menjelaskan kalau NII ada yang berlainan yakni NII KW 9 yang telah menyalahi aturan karena mereka tidak shalat sebab menganggap Negara RI belum menjadi negara Islam dan berarti masih berada di periode Makkah yang belum ada syariat mendirikan shalat. Kalau gak salah HJ mengaku dirinya adalah anggota NII KW 11.
Karena sudah sangat sore, perbincangan saya dengannya terputus. Besoknya isu teman saya yang anggota NII tersebar karena ternyata beberapa guru ada yang mengetahuinya. Saya melihat HJ sedang berdebat dengan salah satu guru agama di kantor organisasi siswa. Dan sejak saat itu, HJ memutuskan keluar dari sekolah. Ia sempat berpamitan kepada kelas saya yang juga kelasnya. Diantara temannya sayalah yang paling dekat dengan HJ. Saya sangat menyayangkan HJ keluar sekolah. Ternyata ia melanjutkan sekolah di MAN 1 Ciawi. Saya pikir ia adalah korban cuci otak NII semangatnya sangat menggebu untuk mencapai target tugas menjadi anggota NII yakni sekurang-kurangnya mendapatkan 3 orang anggota baru dalam jangka waktu satu bulan. HAH seperti MLM saja NII ini…
Ada yang lebih mengejutkan, ternyata diantara anggota NII yang berseteru di daerah (kampung) itu sebagiannya adalah keluarga saya. Yaitu, kakak-kakak dari ibu saya alias “uwa” saya. Sehingga tidak heran jika dikemudian hari saya sempat mengikuti pengajian NII berkat diajak oleh anak Uwa saya. Ustadz yang mengajarnya saya acungi jempol dalam hal penguasaan materinya. Namanya ust E yang katanya memiliki jabatan sebagai bupati kabupaten Tasikmalaya di Negara Islam Indonesia (NII). Setiap ba’da maghrib ust E mengadakan pengajian rutin. Yakni membahas Alquran. Ia melakukan tafsir dengan metode ayat bil ayat dan ayat bil hadits. Saya sangat kagum dengan caranya menjelaskan begitu fasih dan begitu hafal. Biasanya untuk tafsir ayat bil ayat cukup susah dilakukan tanpa membuka referensi, akan tetapi ust E lain dari ust lain yang pernah saya temui. Ia menunjukkan ayat mana yang berhubungan dengan pembahasan saat itu. Ia sebutkan ayat berapa surat apa dan tidak kalah hebat ia hubungkan juga dengan hadits. Ia hapal hadits itu di luar kepala.
Saya sempat heran juga kenapa Ust E langsung mengenal saya bahwa saya putra pak IS. Ternyata ayah saya adalah temannya saat SMA di SMAN 1 Ciawi. Ayah saya juga menolak masuk NII dan pernah diajak pengajian oleh ust E di kota Tasikmalaya. Yang membuat saya jengkel ialah ust E yang selalu menyinggung kalau saya adalah mata-mata. “bukan hal yang tidak mungkin dalam perkumpulan pengajian ada mata-mata” katanya. Saat itu membahas surat An-Nisa yang ada penjelasan mengenai mata-mata di jaman Rasulullah. Uh, saya kesel banget disinggung mata-mata, sebab yang bukan anggota NII hanya saya di situ. Diantara yang hadir di pengajian itu ada suami dari uwa saya yang sudah tua. Di saf depan para orang tua sedangkan di saf belakang para pemuda dan anak-anak. Sepertinya mereka pelajar karena mengaku sedang UN. Semua yang hadir waktu itu berjenis kelamin laki2 alias tidak ada perempuannya mungkin ibu-ibu pengajiannya diadakan pagi-pagi.
Pengalaman terakhir ialah saat lebaran idul fitri, saya ke kampung halaman ibu saya yang tidak jauh rumahnya dari teman saya HJ. Dan saya pun menyempatkan silaturahim dengan HJ pada malam harinya. Di kamarnya di lantai dua yang di desain sebagai tempat halaqoh, saya diperlihatkan buku-buku NII salah satunya bersampul depan dengan gambar bendera NII. Katanya buku itu rahasia dan dilarang disebarkan oleh pemerintah RI. Saya pun tidak boleh meminjamnya. Selain itu ia pun menjelaskan kembali mengenai kesesatan NII KW 9 termasuk menyebutkan bahwa pesantren Alzaytun di Indramayu adalah hasil karya NII kw 9 dan mengajarkan kesesatan NII dimana para santrinya tidak melaksanakan shalat. Kata HJ pesantren Alzaytun adalah pesantren terbesar se Asia Tenggara. Subhanallah..
Saya sebenarnya ingin menginap di rumah teman saya karena HJ memintanya. Tapi ayah saya tidak mengijinkan. Jangan berdebat kusir katanya. Mungkin bapak saya takut saya dipengaruhi olehnya. Sepertinya bapak tahu kalau HJ pernah mewanti-wanti bahwa jangan berislam keturunan. Yakni bersilam karena orang tuanya Islam, bisa jadi pemikiran orang tua itu salah. Kata saya dalam hati orang tua HJ juga anggota NII terus HJ sendiri masuk NII lah gimana tuh???.. sekian pengalaman saya dengan NII semoga bermanfaat untuk kewaspadaan. NB: saya sempat tidak bisa tidur saat malam setelah dipengaruhi oleh HJ. Saya kepikiran terus. Tapi tenang… saya bukan anggota NII kok. Dan saat ini saya tidak bisa memastikan apakah semua orang yang saya sebut anggota NII masih aktif atau sudah keluar, sebab sudah lama tidak berjumpa. Sekian terimakasih mau membaca tulisan saya.

Tidak ada penyimpangan sedikitpun? Afwan..memangnya mereka mendoktrin apa?
BalasHapusMmmm Situ buld
BalasHapus